Kamis, 18 April 2013
Minggu, 10 Maret 2013
Persaingan Perdagangan Bebas Indonesia - China
Implikasi dari kebijakan perdagangan bebas antara Indonesia dan China
Pemerintah
Indonesia dan China akan menetapkan tahun 2010 sebagai tahun
persahabatan bagi Indonesia dan China. Hal ini ditandai dengan
berlakunya perjanjian kerjasama perdagangan bebas atau yang dikenal
CAFTA antara kedua negara ini. Langkah ini dilakukan setelah pada
tingkat regional, ASEAN telah menandatangani kesepakatan perdagangan
bebas ASEAN-China yang akan dilaksanakan pada tahun 2010 ini.
Ada beberapa hal yang
harus menjadi perhatian pemerintah atas persetujuan perjanjian
perdagangan bebas tersebut, terutama dari kesiapan kalangan
industri-industri dalam negeri kita, serta faktor-faktor pendukung dalam
meningkatkan daya saing terhadap produk-produk China. Kemudian apakah
China merupakan negara yang tepat dalam menjalin kerjasama dalam
perdagangan bebas tersebut? Hal ini lah yang menjadi perhatian kalangan
para industri.
Seperti telah kita
ketahui dalam praktiknya, pasar China hanya menyumbang sedikit dari
rata-rata pendapatan perusahaan-perusahaan multinasional yang beroperasi
di negara itu. Pasar China hanya menyumbang kurang dari 2 persen dari
penjualan peruahaan sekaliber Pfizer, Astra-Zeneca, dan Bayer. Contoh
lain, Procter and Gamble (P&G), salah satu perusahaan manufaktur
multinasional raksasa yang hanya mendapatkan kurang dari 5 persen dari
total pendapatannya dipasar China (The Economist, 17 Oktober
2009). Praktik proteksionisme tetap terjadi di RRC, bahkan pasca
tergabungnya negara itu dalam rezim perdagangan bebas WTO pada tahun
2001.
Sampai dengan 2007,
nilai impor Indonesia terhadap RRC telah mencapai 8,5 miliar dollar
Amerika Serikat. Angka ini menempati urutan kedua dalam daftar Negara
importer ke Indonesia. Peringkat pertama ditempati Singapura dengan
nilai sebesar 9,8 miliar dollar AS, sedangkan RRC hanya menjadi tujuan
terbesar keempat dalam ekspor Indonesia setelah Jepang, AS, dan Uni
Eropa.
Ironi masih terjadi di
dalam negeri. Jika dilihat dari indeks produksi industri sedang dan
besar pada triwulan I tahun 2008, hampir semua sector dalam industri
manufaktur di Indonesia mengalami penurunan. Hanya ada empat sektor yang
mengalami penguatan, yakni industri makanan dan minuman, indsutri
pengolahan tembakau, industri barang dari kulit dan alas kaki, serta
industri furniture dan pengolahan lainnya.
Fakta ini ditunjukkan
dari melemahnya pertumbuhan kredit untuk bisnis dan individu selama
bulan November 2008 ke bulan Mei 2009 dari 45 persen dan 30 persen
menjadi 16 persen dan 22 persen. Pelemahan kredit ini tentu akan berdampak negatif bagi prospek industrialisasi ke depannya. Hal ini ditambah dari persentase kredit macet (nonperforming loans) mencapai 4,5 persen pada bulan Juni 2009, angka ini meningkat 0,7 persen sejak Desember 2008.
Masuknya produk China
tentu akan semakin memberikan keuntungan baginya karena konsumsi dalam
negeri kita yang semakin meningkat, tetapi sekaligus menjatuhkan
industri manufaktur nasional Indonesia. Padahal, dari seluruh sector
ekonomi penyumbang produk domestic bruto Indonesia, industri manufaktur
hingga tahun 2008 masih menempati urutan pertama dengan persentase
sebesar 27,8 persen. Posisi kedua adalah sektor pertanian, peternakan,
kehutanan, dan perikanan dengan persentase 14,3 persen dan posisi ketiga
adalah perdagangan, hotel dan restoran yang mencapai 13,9 persen.
Dari sini dapat kita
lihat bahwa perdagangan bebas yang telah dilaksanakan pada tahun 2010
ini akan mengancam industri dalam negeri kita. Hal ini disebabkan
penandatangan perjanjian perdagangan bebas Indonesia dengan China tanpa
melibatkan para industriwan yang merupakan aktor utama dalam persaingan
tersebut.
Penandatangan
Perjanjian Perdagangan Bebas ASEAN-China yang tanpa melibatkan para
industriwan, sehingga kebanyakan industri-industri dalam negeri kita
masih banyak yang belum siap dalam menghadapi perdagangan bebas
tersebut. Sungguh ironis sekali, industri-industri dalam negeri kita
diajak untuk merintis dari bawah hingga tercapai perjanjian tersebut.
Apabila kalau kita
lihat dari kesiapan negara China dalam menghadapi pasar bebas tersebut,
mereka sudah mempersiapkan pembangunan industrinya secara serius. Hal
ini dapat kita lihat dari pembangunan infrastruktur yang sudah memadai,
energi sangat mendukung aktifitas industri, serta bunga kredit yang
begitu rendah jika dibandingkan di Indonesia. Bunga kredit di China bisa
mencapai 4% pertahun, dan juga China pun sengaja memperlemah kurs mata
uangnya serta pemberian insentif pajak terhadap industri-industri dalam
negerinya. Hal ini berlawanan dengan keadaan sebenarnya di Indonesia.
Ditengah gencar-gencarnya dalam menghadapi perdagangan bebas di
Indonesia, pemerintah kurang memperhatikan kesiapan industri dalam
negeri kita. Banyak faktor-faktor yang dianggap penting dalam mendukung
daya saing produk kita yang kurang mendapat perhatian serius oleh
pemerintah kita. Bunga kredit yang tinggi, infrastruktur yang masih
belum memadai, serta faktor-faktor pendukung lainnya yang dianggap
penting yang sangat butuh perhatian pemerintah kita dalam menyikapi hal
tersebut.
Menurut pendapat saya perjanjian perdagangan bebas antara indonesia - china lebih banyak merugikan indonesia dibandingan menguntungkan indonesia sesuai artikel diatas hal ini dikarenakan
penandatangan perjanjian perdagangan bebas Indonesia dengan China tanpa
melibatkan para industriwan yang merupakan aktor utama dalam persaingan
tersebut. Dengan adanya perjanjian perdagangan bebas indonseia - china ini industri - industri di indonesia belum siap menghadapi perdagangan bebas tersebut. dan jika industri - industri di Indonesia belum siap maka bisa saja industri di indonesia akan kalah bersaing dengan produk produk ekspor china terlebih lagi produk dari china terkenal lebih murah dibandingkan dengan produk dalam negeri sehingga hal ini membuat para konsumen di indonesia yang kemampuan daya beli nya rendah lebih memilih produk yang lebih murah yaitu produk yang berasal dari china jika hal ini terjadi maka lama kelamaan industri di indonesia akan gulung tikar karena tidak mampu bersaing dengan produk china. Dalam menangani hal seperti ini seharusnya pemerintah harus mengambil tindakan seperti mensosialisasikan "Cinta produk dalam negeri" karena produk dalam negeri tidak kalah dengan produk china dan juga dapat meningkatkan rasa nasionalisme rakyat indonesia.
sumber artikel :
Sabtu, 03 November 2012
Tugas 2 Pengantar Bisnis
Menurut
analisis saya bisnis penitipan motor ini bisa menjadi salah satu bisnis yang
cukup menggiurkan dikarenakan sebagian besar karyawan atau pegawai yang bekerja
di jakarta tempat tinggalnya berada diluar jakarta seperti depok, tanggerang,
bogor dan lain lainnya sehingga hampir setiap pagi jalanan menuju ibukota
selalu macet bukan hanya di pagi hari tetapi saat jam pulang kantor sehingga
kini banyak orang yang memanfaatkan transportasi yang tidak mengenal kata macet
seperti kereta api dan hal ini dimanfaatkan beberapa pihak untuk mengambil
untung dari situasi ini dengan mendirikan jasa penitipan motor, kini jasa
penitipan motor sudah menjamur disekitar stasiun kereta api baik untuk dalam
jumlah kecil maupun besar.
Alasan
seseorang lebih memilih menggunakan jasa penitipan motor ini karna hanya dengan
membayar 3000 rupiah sudah dapat menitipkan motor sampai waktu yang telah
ditentukan si pemilik jasa penitipan motor ini dan kemudian perjalanan
dilanjutkan dengan menaiki kereta api sehingga kita tidak perlu merasakan macet
nya jalanan ibukota.
Untuk
memulai bisnis ini hanya diperlukan lahan kosong untuk menempatkan motor motor
itu dan kita sudah bisa memulai bisnis ini meskipun mudah untuk membangun
bisnis ini namun diperlukan keamanan yang terjamin agar tidak terjadi
kehilangan dan pelanggan pun merasa puas dengan jasa yang telah diberikan. Untuk
menumbuhkan rasa kepercayaan pelanggan bisa dengan cara menerapkan sistem
keamanan yang baik serta jaminan perlindungan dari resiko kerugian dengan
membuat karcis yang sudah diberi nomor dan tidak bisa dipalsukan oleh pihak
lain
Jika
bisnis ini dijalankan dengan baik dan dikelola dengan benar bisa mendapatkan
keuntungan bersih sampai jutaan ribu rupiah, untuk itu apa salahnya mencoba
untuk berbisnis jasa penitipan motor ini. :)
Sabtu, 20 Oktober 2012
Manajemen Ilmiah
Teori Manajemen ilmiah
1. Frederich Winslow Taylor (Bapak manajemen Ilmiah)
Mengemukakan 4 prinsip
dasar :
- Pengembangan metode-metode ilmiah dalam manajemen
- Seleksi ilmiah untuk karyawan, agar setiap karyawan dapat diberikan tanggung jawab atas suatu tugas sesuai dengan kemampuannya
- Pendidikan dan pengembangan ilmiah kepada para karyawan
- Kerja sama yang baik antara manajemen dan tenaga kerja
Alasan saya memilih
teori ini adalah karna menurut saya prinsip-prinsip teori ini cocok diterapkan
disebuah perusahaan karna berdasarkan prinsip pertama yaitu tentang
pengembangan metode-metode ilmiah dengan begitu metode yang digunakan tidak
sembarangan tetapi sesuai dengan ilmiah yang artinya secara berurutan, kemudian
berdasarkan prinsip kedua yaitu seleksi ilmiah untuk karyawan agar setiap
karyawan dapat diberikan tanggung jawab sesuai dengan kemampuan nya dengan
begitu seorang karyawan dapat bekerja secara maximal karna mereka tahu apa yang
harus mereka kerjakan dan memang sesuai dengan kemampuan mereka. Lalu prinsip
ketiga yaitu pendidikan dan pengembangan ilmiah kepada para karyawan hal ini
ditujukkan agar pengetahuan dan kemampuan para karyawan dapat meningkat
sehingga hasil kerja nya pun dapat memuaskan dan menguntungkan perusahaan
tersebut. Dan berdasarkan prinsip keempat yaitu kerja sama yang baik antara
manajemen dan tenaga kerja hal ini sangat dibutuhkan karna tanpa adanya kerja
sama yang baik antara atasan dan bawahan tidak akan dapat hasil yang diinginkan
tetapi jika terjalin kerja sama yang baik antara manajemen dan tenaga kerja
maka akan mencapai hasil sesuai yang diinginkan karna sama-sama mempunyai
tujuan yang sama.
Langganan:
Postingan (Atom)
